Panduan Teknis Pemicuan STBM

0
55

Hi..para penggiat dan pemerhati STBM kami ingin berbagi terkait proses pelaksanaan pemicuan yang sering kami laksanakan di wilayah dampingan kami di Kabuapten Biak Numfor dan Supiori. Saat melakukan pemicuan kami merujuk pada panduan atau SPO yang kami susun dan sepakati. Berikut panduan pelaksanaannya selamat membaca ya..jangan lupa memberikan input

 

ANDUAN TEKNIS PELAKSANAN TRIGGERING/PEMICUAN

SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT (STBM)

BABA I

PENDAHULUAN

Triggering/pemicuan merupakan metode yang di gunakan dalam program pendekatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat yang bertujuan untuk merubah Perilaku Hidup Bersih dan Sehat  (PHBS) pada masyarakat, proses pemicuan ini di laksanakan dalam uapaya  ada masyarakat yang terpicu dalam artian timbul keinginan yang kuat dalam diri sesorang untuk meninggalkan kebiasan-kebiasaan buruk yang tidak bersih dan sehat.

Masyarakat yang terpicu akan membuat komimen untuk melukan perubahan dengan cara melaksanakan salah satu atau secara keseluruhan 5 pilar SHAW_STBM yaitu:

  1. Stop Buang Air Besar Sembarangan
  2. Cuci Tangan PAkai Sabun
  3. Mengelolah Air Minum Rumah Tangga dengan Aman
  4. Mengelolah Sampah Rumah Tangga dengan benar
  5. Mengelolah Limbah Cair Rumah Tangga dengan benar

Untuk mencapai tujuan agar ada masyarakat terpicu maka seorang fasilitator harus di bekali dengan kemampuan komunikasi yang baik agar pesan yang ingin disampaikan mudah di mengerti oleh masyarakat, sehingga tujan akhir perubahan prilaku hidup bersih dan sehat bisa terwujud.

Panduan ini diharapkan bisa memberikan arahan yang praktis mengenai teknis penerapan triggering/pemicuan di masyarakat..Panduan Teknis ini akan mencakup:

  1. Standar Pelaksanaan triggering/pemicuan
  2. Prinsip triggering/pemicuan
  3. Persiapan pelaksanaan triggering
  4. Pelaksanaan triggering/pemicuan dan
  5. Paska pelaksanaan triggering/pemicuan

Atas dasar itu maka tujuan dari panduan teknis ini adalah:

  1. Memberikan arah dan pegangan untuk para pelaksana Sanitasi Hygiene And Water (SHAW) memiliki standar dalam melaksanakan triggering/pemicuan.
  2. Memudahkan para pelaksana lapangan untuk melaksanakan SHAW/SHAW_STBM terkait dengan teknik-teknik seperti yang telah disebutkan di atas.

Panduan ini dipersiapkan untuk digunakan oleh para pelaksana SHAW_STBM dilapangan seperti:  petugas Pukesmas, Kader Posyandu, para fasilitator lapangan,relawan dan pihak-pihak lainnya yang berminat dalam pengembangan SHAW_STBM

BAB II

STANDAR PELAKSANAAN TRIGGERING/PEMICUAN

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat adalah suatu pendekatan untuk merubah prilaku sanitasi dan hygiene masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan. Lahirnya strategi nasional ini didasari oleh pengalaman bahwa pendekatan sektoral dan subsidi perangkat keras selama ini tidak memilki daya ungkit terjadinya perubahan prilaku higienis dan peningkatan akses sanitasi. Sebagai dasar pelaksanaan triggering/pemicuan di komunitas maka diperlukan pemahamna mengenai prinsip – prinsip, persiapan dan pelaksanaan triggering, Sehingga tujuan yang di harapkan bisa tercapai secara maksimal. Berikut ini adalah standar pelaksanaan yang harus di pahami seorang fasilitator :

  1. Prinsip – prinsip triggering/pemicuan

Sebagai seorang fasilitator sebelum melaksanakan triggering/pemicuan perlu memahami prinsi – prinsip dasar pemicuan atau lebih dikenal dengan strategi fasilitasi di komunitas yaitu:

Ø  Program ini tanpa subsidi: katakana dari awal bahwa kehadiran tim tidak membawa bantuan melaikan ingin belajar bersama masyarakat mengenai sanitasi dan hygiene.

Ø  Tidak mempromoskan jamban atau menunjukkan model-model jamban: Biarkan masyarakat yang menentukan /memunculkan opsi model jamban pada saat memfasilitasi triggering/pemicuan.

Ø  Tidak menggurui, tidak penyuluhan bahkan tidak memberikan solusi: Fasilitator harus banyak mendengar dan bertanya biarkan masyarakat yang memacahkan setiap permasalahannya.

Ø  Memicu masyarakat dengan elemen-elemen pemicuan: Rasa jijik, rasa malu, takut sakit, takut dosa dan lain-lain.

Ø  Minimalkan formalitas sehingga masyarakat tidak merasa rendah: Hindari menyampaikan latar belakang  pendidikan, jabatan di instansi dan lain-lain yang bisa menyebabkan gep antara fasilitator dan masyarakat.

  1. Elemen-elemen pemicuan

Elemen pemucian merupakan peluru bagi seorang fasiliator yang digunakan/ditembakakn untuk memicu masyarakat melakukan sebuah perubahan dengan membuat komitmen.

Elemen – elemen pemicu Alat P.R.A  yang di gunakan
Rasa Malu     Peta kondisi lingkungan(mengexplore kondisi sanitasi dipeta dusun yang dibuat)

Transect walk/jalan-jalan keliling kampung/dusun : mengexplore pelaku BABS

Fokus Diskusi Group terutama untuk perempuan

Elemen – elemen pemicu Alat P.R.A  yang di gunakan
Rasa Jijik     Perhitungan volume tinja sehari, seminggu, setahun dikalikan usia mayarakat yang ada

Diagram alur/alur kontaminasi: simulasi air yang mengandung tinja yang digunakan untuk keperluan kumur, cuci muka, cuci pakaian, cuci piring, cuci makanan (beras + sasuran+okan) dan kepeluan lainnya

Takut Sakit      Alur kontaminasi dari kotoran sampai tertelan oleh manusia yang menyebabkan jatuh sakit

Pemetaan masyarakat yang pernah terkena diare (didukung data dari Puskesmas)

Perhitungan ekonomi, biaya yang dikeluarkan jika sakit.

Privacy/harga diri     Lakukan FGD terutama untuk kaum perempuan (bagaiman BAB di malam hari, bagaimana jika ada yang mengintip saat BAB)
Kemiskinan      Membandingkan kondisi dikampung lain atau daerah yang miskin di Indonesia.
Dan lain – lain sebagainya     Sesuaikan dengansituasi, kondisi, dan toleransi masyarakat.

 

  1. Persiapa

      Apa dan siapa yang perlu dipersiapkan

  1. Pengenalan Situasi Lapangan

Pemilihan lokasi sangat menentukan perkembangan SHAW selanjutnya. Misalnya lokasi, apakah itu kampung atau dusun, yang kondisi lingkungannya buruk, banyak terjangkit penyakit berbasis lingkungan khususnya yang berkaitan air (related-water born diseases) tentu tepat kalau dipakai sebagai daerah untuk mempromosikan atau memicu pola hidup sehat. Kondisi sebaliknya daerah yang masyarakatnya sudah terbiasa buang air besar di jamban tentu tidak tepat lagi untuk ditangani. Dapat dipastikan bahwa promosi atau pemicuan tidak akan ada efeknya sama sekali alias gagal di daerah yang memang kondisinya relative baik.

Oleh karenanya untuk menentukan kampung/dusun lokasi promosi atau pemicuan harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

  • Daerah itu penuh dengan kekumuhan,
  • Belum pernah ada pembangunan sanitasi dengan pendekatan subsidi,
  • Pernah menjadi daerah dengan angka kejadian diare yang cukup tinggi,
  1. Penggalangan dukungan tokoh-tokoh masyarakat

Tokoh-tokoh masyarakat seperti kepala kampung dan perangkatnya serta tokoh yang lain seperti tokoh agama ,tokoh adat dan guru perlu di galang dukungannya.  Posisi mereka di kampung sangat penting karena mereka adalah panutan masyarakat. Sering terjadi kegiatan SHAW_STBM mengalami kegagalan karena lemahnya dukungan para tokoh-tokoh ini.

Dari upaya menggalang dukungan diharapkan:

  • Adanya komitmen dari tokoh-tokoh masyarakat termasuk kepala kampung beserta aparat dan lembaga kampung (seperti Bamuskam) untuk memasukkan agenda kegiatan SHAW_STBM dalam agenda kegiatan pemerintah kampung.
  • Merencanakan mengalokasikan APBK atau ADD nya untuk tindak lanjut khususnya terkait dengan sentra produksi sanitasi kampung atau biaya operasional dan penguatan kapasitas relawan SHAW_STBM,
  • Membuat instruksi kepada semua warga agar hadir dalam promosi/pemicuan SHAW_STBM

Target pengikut sertaan para tokoh dimaksudkan  agar mereka benar-benar memahami dan menyadari bahwa SHAW_STBM adalah pendekatan perubahan prilaku masyarakat  yang terkait persoalan air dan sanitasi.

  1. Pengorganisasian

Wadah atau organisasi yang akan melakukan promosi/pemicuan perlu menjadi perhatian.  Karena sering terjadi lemahnya pengorganisasian mengakibatkan gagalnya pelaksanaan SHAW_STBM dilapangan. Artinya persiapan yang dilakukan untuk mengorganisir diri dalam Tim Fasilitator SHAW_STBM memang benar-benar dilakukan sehingga dapat menjadi Tim yang solid dalam melaksanakan tugas. Baik ketika persiapan, pelaksanaan, maupun pada tahap paska pemicuan/promosi dalam rangka melakukan tindak lanjut pengembangannya. Anggota yang duduk dalam Tim adalah semua orang yang akan terlibat dalam pelaksanaan, dan paska pelaksanaan SHAW_STBM di kampung. Seperti bidan kampung, kader Posyandu, guru, dan lain sebagainya perlu menjadi bagian utama dari Tim Fasilitator program SHAW_STBM. Setiap anggota Tim harus memahami tugas dan tangungjawabnya. Pertemuan rutin Tim SHAW_STBM menjadi penting untuk dilakukan. Agar setiap persoalan yang terkait dengan penanganan SHAW_STBM dibicarakan dalam pertemuan Tim secara periodik. Hal ini dimaksudkan agar SHAW_STBM bisa melembaga di kampung. Artinya SHAW_STBM menjadi pandangan berfikir dan bertindak di kampung. Atau dengan kata lain SHAW_STBM menjadi program rutin kampung yang masuk dalam APBK.

  1. Peralatan

Jangan dilupakan untuk selalu melakukan pemeriksaan kelengkapan peralatan sebelum triggering/pemicuan dilakukan. Kurang lengkapnya peralatan bisa mempengaruhi konsentrasi kita ketika sedang melakukan promosi/ pemicuan.

Peralatan-peralatan yang dimasudkan adalah alat-alat yang terkait dengan KIE (komunikasi, informasi, dan edukasi) seperti:

  • Untuk pemicuan BABS yaitu: kertas warna warni, serbuk kapur warna warni, tali raffia, air mineral gelas, gambar sketsa kontaminasi dari kotoran ke mulut, kertas flipchart, spidol, dan lain sebagainya
  • Untuk promosi CTPS yaitu: alat-alat peraga
  • Untuk promosi PAM-RT yaitu alat-alat peraga
  • Untuk promosi sampah rumah tangga yaitu alat-alat peraga
  • Untuk promosi limbah cair rumah tangga alat-alat peraga
  1. Pembagian peran dalam Tim

Sebelum melakukan triggering/pemicuan keterampilan, dan sikap-sikap perlu dimiliki fasilitator. Oleh karenanya pelatihan untuk memampukan dan meningkatkan keterampilan fasilitator SHAW_STBM telah diberikan sebelumnya. Demikian pula halnya pembagian peran serta tugas pokok dan fungsinya (tupoksi) sehingga diharapkan adanya kerjasama yang solid dalam tim.

Tim Tupoksi
LEAD FASILITATOR Fasilitator utama, motor utama proses fasilitasi, 1 orang
Co-FASILITATOR Pembantu Fasilitator utama dalam proses fasiltasi, jumlah sesuai kesepakatan
CONTENT RECORDER Perekam proses fasilitasi, jumlah 1 atau 2 orang
PROCESS FACILITATOR Penjaga alur proses fasilitasi, mengontrol agar proses sesuai dengan alur, jumlah 1 orang
ENVIRONMENT SETTER Penata suasana fasilitasi, menjaga suasana agar tetap kondusif, jumlah boleh lebih dari 1 orang.
  1. Pelaksanaan
  2. Bagaiman langkah-langkah melaksanakan triggering/pemicuan

Setelah menyepakati waktu dan tempat  lokasi pemicuan dan di harapkan secara total masyarakat hadir maka proses triggering/pemicuan siap dimulai dengan tahapan :

Pengantar Pertemuan

penyampaian  tujuan dan perkenalan tim

Salah seorang tim memfasilitasi proses penyampaian maksud dan tujuan yaitu kehadiran tim mau belajar bersama mengenai kondisi sanitasi  dan prilaku masyarakat mengenai kebersihan diri dan lingkungan, tim tidak membawa bantuan apapun. Kemudian sampaikan apa masyarakat mau menerima tim . Jika Ya  maka lanjutkan proses perkenalan tim jika memungkinkan perkenalan juga dilakukan oleh masyarakat yang hadir. Jika jawabannya Tidak Stop pertemuan dan ucapkan terima kasih serta sampaikan tim akan kembali jika masyarakat memiliki kesempatan dan kemauan untuk belajar bersama.

 Pencairan suasana

Pencairan suasana bertujuan untuk menghilangkan ketegangan dan gep antara tim dan masyarakat sehingga peserta bisa mengambil peran secara aktif. Proses ini bisa dilakukan dengan cara permainan, mop atau nyanyi bersama, usahakan masyarakat yang memulai proses tersebut.

Sebelum suasana betul betul cair jangan lakukan proses selanjutnya karena hasil yang di harapkan (keterlibatan peserta)  tidak akan maksimal.

Identifikasi istilah – istilah mengenai sanitasi

Setelah suasana dirasakan cair langkah selanjutnya menyepakati secara bersama istilah-istilah sesuai dengan bahasa dikampung tersebut, misalnya Jamban,Kotoran/tinja dll. Kegiatan ini bertujuan untuk memudahkan pemahaman bersama

Pemetaan

proses pemetaan/pembuatan sketsa

Proses dilakkan dengan cara meminta kesedian salah seorang untuk menggambarkan batas wilayah dusun tempat pelaksanaan triggering/pemicuan. Setelah sketsa batas dusun selesai, kemudian libatkan seluruh peserta untuk menentukan letak fasilitas umum (gereja,puskesmas/posyandu,sekolah, pasar dll), letak rumah mereka, jamban, sumber air, lokasi BAB, tempat buang sampah dan lain-lain yang ada kaitannya dengan sanitasi. Penentuan alat serta symbol yang di pakai pada peta harus disepakati bersama. pemetaan merupakan salah satu teknik dari PRA  (Participatory Rural Appraisal)

Catatan

Pada saat pemetaan, pemicuan dengan elemen rasa malu bisa di explore dengan menanyakan :

  1. Bagaiman persaan masyarakat melihat kondisi dusun dalam peta terutama masyarakat yang biasa BAB sembarangan
  2.  Apa yang harus dilakukan ?
  3.  Bagaiman cara mengatasi hal tersebut?

 

Jika ada masyarakat yang terpicu dan ingin berubah tarik kedepan dan berikan aplaus (tepuk tangan) dan tanyakan kepeserta yang lain ada yang ingin mengikuti jejak orang tersebut (orang yang terpicu). Buatkan lembar komitmen bagi masyarakat yang ingin berubah.

Alur Kontaminasi

Proses ini bisa dilakukan dengan menggunakan gambar yang bertujuan memberikan pemahaman bersama mengenai alur  kotoran/tinja sampai masuk kedalam tubuh atau tertelan oleh seseorang


Catatan

ü  Dengan diagram F , pemicuan dengan elemen rasa jijik ,takut sakit bisa di explore

ü  Lewat diagram F simulasi air tercemar juga bisa dilakukan

ü  Pertanyaan yang di lontarkan : melihat alur tesebut bagaimana perasaanya?, apa yang harus dilakukan?, apa sudah merasa aman jika ada masyarakat yang masih melakukan kebiasaan BAB Sembarangan?.

      Transect walk

Proses ini dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi sanitasi di dusun tersebut, terutama lokasi tempat BABS.

Jika dalam kegiatan ini ditemukan tinja maka lakukan FGD  di tempat.

Catatan

ü Elemen pemicuan yang digunakan rasa jijik,privacy/harga diri terutama bagi kaum perempuan. Tanyakan bagaimana perasaanya melihat tinja?, bagaiman jika ada yang mengintip saat BAB?, apa yang harus dilakukan?

ü  Jika ada masyarakat yang terpicu berikan aplaus

ü  Tinja yang ditemukan bisa di gunakan sebagai bahan simulasi air tercemar

      Perhitungan volume tinja dan simulasi air tercemar

Kedua proses ini dilakukan setelah pemetaan, bisa dilakukan tanpa harus berurutan dengan proses yang lain

Cara

  1. Perhitungan tinja

Dilakukan dengan cara menghitung volume tinja seseorang sehari, seminggu, sebulan , setahun dan seumur orang tersebut di kalikan dengan jumlah jiwa pada dusun tersebut. Tanyakan apa pernah melihat tinja sebanyak itu?, lalu kemana perginya tinja tersebut? (Antarkan pikiran masyarakat menuju alur kontaminasi ), tanyakan apa yang harus dilakukan untuk memutuskan alur tersebut sehingga tidak menyebabkan tertelan atau adanya korban yang sakit.

Catatan

ü  Pada saat perhitungan tinja biarkan masyarakat yang menghitung  jumlahnya

  1. Simulasi air tercemar

Ambil segelas air minum (air gelas mineral), tawarkan pada peserta yang ingin minum (air yang di minum jangan di habiskan), kemudian masukkan tinja yang di dapati saat transect walk atau kotoran yang lain yang ada di sekitar (kotoran binatang) menggunakan lidi/sehelai rambut. Kemudian aduk lidi/sehelai rambut yang telah di beri kotoran (tinja) kedalam air gelas tersebut.

Tawarkan kembali air yang sudah terkontaminasi, siapa yang mau meminumnya?, jika tidak ada kenapa?, Apa yang harus dilakukan?

Catatan

ü  Elemen yang digunakan rasa jijik,takut sakit dll

ü  Jika ada yang terpicu tarik kedepan dan berikan aplaus.

  1. Apa hal yang dipandang penting dilakukan setelah triggering/pemicuan (tips)?
  2. Rencana Aksi Komunitas dan pembentukan komite lokal

Rencana ini merupakan formulasi dari tindakan apa yang akan komunitas lakukan setelah  mereka memperoleh diberi promosi/pemicuan. Apakah kesadaran mereka muncul dan mendorong untuk melakukan perubahan? Kalau ya, tindakan awal yang mengemuka  adalah pernyataan bahwa beberapa orang dari mereka ingin berubah. Apa yang menjadi kehendak mereka untuk berubah bisa berupa daftar kegiatan yang akan mereka lakukan per rumah tangga. Misalnya ingin segera membangun jamban. Agar bisa diadministrasikan dan dapat dijadikan pegangan maka Rencana Aksi Komunitas ini di diformulasikan dalam bentuk  tertulis.

Contoh format Rencana Aksi Komunitas untuk membangun jamban mandiri/swadaya, tempat cuci tangan, pengadaan tempat penyimpanan air, tempat sampah, dan SPAL:

No Nama Sarana yg dibangun Tanggal mulai Tanggal selesai paraf
1

2

3

4

……..

……..

…….

Jamban

CTPS

Lubang sampah

Dan lain-lain

..

..

….

Masyarakat yang terpicu berkomitmen dengan membuat kontrak sosial

Pembentukan komete local

Dilakukan untuk mengawal komitmen masyarakat di dusun yang ingin berubah sesuai dengan lembar Rencana Kerja Masyarakat (RKM) yang telah di sepakati.

Penutup Kegiatan

Setelah rangkaian proses triggering/pemicuan telah dilakukan, sebelum di akhiri beri kesempatan kepada aparat kampung (Kepala kampung/kepala dusun) untuk menyampaikan tanggapannya.

Catatan

ü  Diakhir sesi ucapkan terimah kasih atas kesedian masyarakat kampung/dusun yang mau belajar bersama tim, serta sampaikan bahwa tim mendapatkan banyak pengalaman pada kesempatan ini dan pengalaman ini akan diceritakan di tempat lain saat melakukan kegiatan yang sama.

                  Rencana Pendampingan (Follow –UP) Tim Fasilitator dan relawan Kampung

Rencana ini adalah rencana yang perlu dipersiapkan oleh para fasilitator/relawan sebagai tanggapan terhadap rencana aksi yang disusun oleh komunitas. Artinya fasilitator secara terorganisir, bersama-sama dengan anggota yang lain dalam Tim relawan SHAW_STBM Kampung menyusun rencana monitoringnya atau rencana pendampingannya di akhir sesi promosi/pemicuan. Artinya sudah merencanakan untuk mendetailkan rencana dampingan/monitoring di lapangan. Paling tidak di akhir sessi pemicuan Koordinator Tim Fasilitator SHAW_STBM sudah memiliki gambaran aspek-aspek penting yang harus di monitor.

Catatan

ü  Kegiatan monitoring pertama dilakukan 3 hari setelah pemicuan untuk menindak lanjuti Rencana Kerja Masyarakat (RKM)

ü  Kegiatan selanjutnya dilakukan setiap minggu selama 4 kali, setiap dua minggu 4 kali , dan setiap bulan

Tujuan

Kegiatan follow –up bertujuan untuk

ü  Memberikan penguatan terhadap local komite

ü  Mempromosikan 5 pilar STBM kepada masyarakat yang lain.

BAB III

PENUTUP

Demikianlah Panduan praktis pelaksanan triggering/pemicuan di buat untuk para pelaksana SHAW_STBM di lapangan. Semoga dengan adanya panduan ini bisa membantu dan mempermudah dalam memahami pelaksanaan pemicuan di komunitas.

Namun disadari bahwa masih banyak kekurangan dari isi panduan ini, sehingga kami berharap saran, kritikan yang sifatnya membangun menjadi masukan bagi penyempurnanan panduan ini.  Terima kasih KASUMASA.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here