KESEHATAN LINGKUNGAN BUKAN "ANAK TIRI"

Yayasan Rumsram

Alamat: JL. Bosnik Raya,  Depan PLTD II, Kelurahan Karang Mulia, Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor, Papua 98115, Indonesia
Phone: +62 981 23269
email: kasumasa_biak [at] yahoo.com

 

KESEHATAN LINGKUNGAN BUKAN "ANAK TIRI" PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 29 August 2017 05:09

Rianawati, asal Purwokerto yang akrab dipanggil Nana, lahir pada 28 Agustus 1980. Ia merupakan staf di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Ridge yang berprofesi sebagai Sanitarian sejak tahun 2012. Selain melayani masyarakat kesibukannya tentu saja berfokus pada keluarga yaitu mengurus suami dan 2 putrinya yang bersekolah di Taman Kanak-kanak (TK).

 

Distrik Samofa merupakan wilayah kerja Puskesmas Ridge, yang baru diintervensi Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) melalui Program Sustainable Sanitation And Hygine For Eastern Indonesia (SEHATI) pada September 2016 lalu. Tujuan program ini yaitu menekan angka penyakit akibat lingkungan yang buruk seperti, penyakit Diare, Malaria, Penyakit Kulit, ISPA, dan Kecacingan. Berdasarkan data Puskesmas, penyakit-penyakit tersebut selalu menjadi Top Trend dalam 10 Besar Penyakit tiap tahunnya sehingga dengan pelaksanaan 5 Pilar STBM secara total di masyarakat diharapkan turut menyumbang pada penurunan kasus penyakit akibat masalah lingkungan di wilayah kerja Puskesmas Ridge.

Setelah terlibat dalam kegiatan sosialisasi, pelatihan dan pemicuan dimasyarakat, Nana menyadari bahwa kesehatan lingkungan bukan hanya urusan Sanitarian, akan tapi butuh keterlibatan Puskesmas, Dinas Kesehatan, Pemerintah Distrik, Kampung dan organisasi di masyarakat. Ia merasa mendapat pengetahuan baru yang memudahkannya menyusun program kesehatan lingkungan berupa jadwal promosi, pendampingan dan monitoring.

Menurut Nana, Sanitarian punya peran dan tanggung jawab besar meningkatkan derajad kesehatan masyarakat. Sayangnya Program Kesehatan Lingkungan (Kesling) yang dijalankan Sanitarian dianggap “anak tiri”. Di Puskesmas sendiri fokus pelayanan lebih besar pada Gizi, Imunisasi, Kesehatan Ibu dan Anak. Ini terbukti dari porsi anggran untuk  perencanaan anggaran Puskesmas dan Dinas Kesehatan. Kesehatan lingkungan sendiri bersifat promotif dan preventif, artinya membantu masyarakat bagaimana mencegah penyakit. Nana menjelaskan bahwa jika lingkungan sehat berarti ibu hamil tidak Malaria, jauh dari resiko anemia/kurang darah sehingga bayi yang lahirpun berat badannya normal.  Ini sangat menyumbang keberhasilan program kesehatan lain di Puskesmas. Selain itu orang yang sehat pasti lebih produktif, tidak ada pengeluaran berobat dan uang bisa digunakan memenuhi gizi keluaga, pendidkan anak dan lainnya.

 

Sebelum tau STBM program yang dijalankan Nana seperti inspeksi sanitasi tentang rumah sehat, jamban, pengelolaan air bersih dan air minum rumah tangga. Selain itu dilakukan pengawasan terhadap rumah makan/warung, inspeksi sanitasi sekolah, survey jentik. Hanya sebatas mengunjungi untuk melaporkan ke Dinas Kesehatan. Itupun tidak diberikan format ataupun bimbingan teknis. Sehingga formatnya kadang cari referensi dari internet ataupun bertanya pada Sanitarian lainnya. Ada juga program kegiatan dalam gedung yaitu klinik sanitasi namun tidak lancar. Kendalannya, “saya tidak percaya diri kalau ngomong, tidak iklas juga jalani sesuatu apalagi kalau pimpinan sudah anggap Kesling tidak penting saya bakal mundur” kata Nana.

Namun sekarang Nana menganggap STBM  sebagai suatu wadah untuk membuktikan bahwa Sanitarian dengan profesi dibidang kesehatan lainnya. Jika dilakukan dengan serius akan berkontribusi besar dalam menurunkan angka penyakit maupun kematian akibat masalah Lingkungan. “Bagimanapun Mencegah tetap lebih baik dari pada mengobati” tuturnya.

Selain pendampingan dan monitoring, Nana lebih berani tampil dan aktif melakukan promosi STBM lewat gereja dan sekolah. Strategi ini dirasa cukup ampuh untuk menyebar informasi STBM kepada masyarakat karena  mengumpulkan masyarakat tidaklah mudah, akan tetapi dengan menggunakan momen ibadah di gereja sebagian besar masyarakat kampung pasti hadir. “Meskipun saya beragama Muslim, tidak ada kendala sama sekali dalam mempromosikan STBM lewat kegiatan di gereja. Saya merasa masyarakat yang mayoritas beragama Nasrani menerima baik. Awalnya memang saya ragu namun tetap berpikir positif bahwa ini tugas dari Tuhan untuk melayani masyarakat.” Ungkap Nana.

 

Dalam menjalankan STBM sanitarian harus lebih banyak diluar gedung Puskesmas dari pada dalam gedung. Ini yang bikin Sanitarian malas turun lapangan apa lagi bagi staf yang masih berstatus honorer karena tidak ada anggaran yang mendukung. Meskipun begitu ada rasa prihatin dengan masyarakat, Ia merasa bersyukur ada Yayasan Rumsram yang mendampingi sehingga saat ada kendala dilapangan langsung dikoordinasikan dan mencari solusi bersama teman-teman Rumsram.

Nana menyadari betul bahwa peningkatan pengetahuan dan ketrampilan bagi Sanitarian sangat penting untuk mengatasi krisis percaya diri, dan ini telah didapatkannya lewat program STBM. Harapannya Dinas Kesehatan dan Puskesmas bisa mendukung dan memandang sama pentingnya semua program kesehatan tanpa ada yang dianak tirikan lagi. (YP)

 

Last Updated on Tuesday, 29 August 2017 06:01