Petani Sederhana Yang Mengembangkan Teknologi Tepat Guna

Yayasan Rumsram

Alamat: JL. Bosnik Raya,  Depan PLTD II, Kelurahan Karang Mulia, Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor, Papua 98115, Indonesia
Phone: +62 981 23269
email: kasumasa_biak [at] yahoo.com

 

Petani Sederhana Yang Mengembangkan Teknologi Tepat Guna PDF Print E-mail
Written by Info Rumsram   
Tuesday, 26 August 2014 08:52
Berawal dari mengikuti pelatihan pembuatan pupuk  dan pestisida  organik yang diselenggarakan Yayasan Rumsram di Kampung Adibai tahun 1998, Fredrik Rumkorem (42 tahun)  tekun mengembangkan ilmu yang diperolehnya dari berbagai pelatihan dan pendampingan.  Sampai sekarang pria yang memiliki 5 orang  anak ini masih tetap setia mengikuti bimbingan dan motivasi dari Rumsram maupun pemerintah.
Fredrik yang memiliki istri Lina Rumere (29 tahun) hanya menamatkan pendidikan SMP  tetapi ia memiliki minat dan motivasi yang tinggi menjadi petani dan terus mempraktekkan  hasil pelatihan dan pendampingan  yang ia peroleh. Berkat kegigihannya dan keuletannya  dalam mengembangkan usaha pertanian   Fredrik sudah beberapa kali mengikuti pelatihan  di luar Papua yang difasilitasi oleh   Dinas    Pertanian dan Perkebunan Biak Numfor. Tahun  2009 Fredrik adalah salah satu petani yang terpilih mengikuti  pelatihan pengembagan teknologi biogas energi terbaharukan  di Yogyakarta. Tahun 2011  terpilih mengikuti pelatihan pembuatan pupuk kompos dan okulasi tanaman  dan magang usaha tani produktif di Bali. Selain itu Fredrik juga aktif sebagai relawan kesehatan ternak di Kampungnya Adibai, Distrik Biak Timur.
Pengetahuan dan  ketrampilan Fredrik semakin luas setelah ia belajar dari keberhasilan petani di Jawa dan Bali yang membuatnya terinspirasi untuk merubah pola pertanian dari berpindah – pindah menjadi pertanian menetap.   Fredrik memiliki halaman rumah yang luas dan mendukung untuk mempraktekkan pengetahuan dan ketrampilan yang didapatnya dari  pelatihan dan pendampingan. Cuma sayang halaman rumahnya terdapat batu cadas yang membatasi kegiatan budidaya. Di  pekarangan rumahnya yang luas 1,5 Ha, Fredrik menanam berbagai jenis tanaman seperti; sayur kangkung, bayam, sawi, kacang tanah dan pembibitan buah naga serta tanaman perkebunan bahkan tanaman buah naga banyak ia tanam. Fredrik juga mempraktek pembuat pupuk organik dari sisa – sisa  kotoran ternak  sapi untuk dijadikan kompos yang ia pakai untuk  pupuk tanaman. Pada pekarangannya tidak  ada lagi kegiatan bakar membakar dengan api sebagaimana kebiasaan petani tradisional karena sisa tumbuhan, kotoran ternak ia pakai untuk pupuk tanaman.

Membuat Biogas & Pupuk Organik

Keluarga Fredrik Rumkorem memanfaatkan limbah kotoran ternak sapi dan tinja rumah tangga menjadi biogas. Kemudian biogas dipakai untuk memasak dan penerangan lampu gas.   Fredrik memperoleh biogas dari pengolahani kotoran 4 ekor ternak sapi miliknya. Sejak tahun 2011, disamping sebagai petani Fredrik  memulai pekerjaan membuat biogas dan pupuk organik setelah kembali mengikuti pelatihan dari Yogyakarta.  Dari 6 orang petani yang terpilih dari Biak Numfor untuk mengikuti pelatihan hanya Fredrik saja yang masih meneruskan pembuatan pengolahan biogas sampai saat ini.  Pada awalnya ia menggunakan drum untuk pengolahan  kotoran ternak menjadi biogas kemudian pada tahun 2012 ia mendapat bantuan Diagester dari Dinas Peternakan sebagai alat pemeproses kotoran ternak dan penampung biogas.  Cara membuat biogas cukup sederharna  tetapi membutuhkan kesabaran dan ketekunan untuk membuatnya, apalagi bergelut dengan tahi ungkap Fredrik.   Proses dimulai dari mengumpulkan kotoran ternak sapi, lalu kemudian setiap 1 kilogram kotoran ternak sapi dicampur dengan 1 liter air lalu dituangkan ke dalam wadah pemproses biogas dan  selanjutnya proses fermentasi dan menghasilkan biogas dan lumpur kotoran ternak akan mengendap dan dialirkan ke wadah lainnya.
Fredrik menceritakan bahwa dari 200 kg kotoran sapi dapat menghasilkan 80 liter gas, yang dapat digunakan untuk memasak dengan 2 kompor dan penerangan 1 unit lampu gas selama 3 hari. Lebih dikatakan bahwa waktu efektif menggunakan gas hanya 2 bulan sekali proses pembuatan biogas. Hal ini disebabkan ia harus membuat fermentasi hasil akhir berupa lumpur kotoran sapi atau tinja, mengeringkan dan mengurasnya untuk kemudian dicampur dengan ampas sagu untuk menjadi kompos. Jika tidak ada biogas keluarganya kembali menggunakan kayu bakar atau minyak tanah. Namun Fredrik merasa senang karena  dalam waktu 6 bulan ia bisa menghemat uang tidak membeli minyak tanah.      Selain menghasilkan biogas dari kotoran ternak sapi Fredrik juga mengembangkan dan      mengolah tinja yang berada di jamban untuk menghasilkan biogas. Lumpur sisa dari      kotoran ternak maupun tinja lalu difermentasi, dan setelah dikeringkan dicampur dengan     ampas sagu untuk menjadi kompos.  Kompos ia pakai untuk mengemburkan tanah dan      memupuk tanaman, juga sering ia jual kepada masyarakat yang berminat terutama dari kota     Biak  dengan harga 3000 rupiah per kilogram. Sedangkan  hasil  fermentasi dari kotoran ternak berupa cairan dipakai untuk pupuk sayuran  (kangkung, bayam,sawi),  Selain itu Fredrik juga membuat larutan perangsang pertumbuhan  akar tanaman yang terbuat dari air kelapa. Sebagai petani sederhana Fredrik menjual hasil pertanianya ke pasar berupa sayuran, pinang  dan sebagainya.  Setiap minggu istrinya mendapat penghasilan dari jual sayur berkisar  900 ribu – 1,2 juta rupiah yang kemudian dikelola oleh istrinya untuk kebutuhan rumah tangganya.(JK/IM)














Last Updated on Saturday, 01 July 2017 16:17